Skip to content

PATOLOGI HUMANISME

7 Maret 2012

Image

PATOLOGI HUMANISME (MODERN):
DARI KRISIS MENUJU ‘KEMATIAN’ EPISTEMOLOGI RASIONAL

 
Abstract:  The Great project of modernism epistemologically is built
of Cartesian rationalism foundation. In the one hand, it gives positive
contribution in civilization development, but in the other hand, it
conceives dehumanization. Cartesian’s rational epistemology which
influenced the great isms in philosophy, in reality  it creates the
degradation of human values.
Kata Kunci:  Patologi, epistemology rasional, peradaban modern,
dehumanisasi.  
Gerak pendulum sejarah peradaban umat manusia, biasanya selalu diawali
dengan munculnya berbagai pemikir dan pemikiran yang melakukan
pemberontakan atas segala keadaan pada zamannya. Pemikir, baik itu ilmuwan
terlebih para filsuf merupakan representasi munculnya ‘kegelisahan’ atas situasisituasi yang melingkupinya. Kegelisahan  itu kemudian melahirkan sejumlah
pemikiran cerdas yang mengubah ‘tatanan’, mempertanyakan ‘kebenaran’ yang
selama ini diterima begitu saja, menuju suatu  progressivitas  (kemajuan)
peradaban kemanusiaan. s
Terminologi kemajuan  (progress)  sebuah peradaban kemudian menjadi
satu-satunya ukuran kebenaran. Logika  kebenaran peradaban adalah logika
kemajuan dengan penemuan sains dan teknologinya sebagai salah satu
‘keunggulan’ komparatif manusia ‘maju’. Implikasi logisnya, peradaban modern;
utamanya semenjak abad Renaisans, terlebih pada abad Pencerahan, -dengan
demikian- adalah representasi kebenaran peradaban dengan mengesampingkan
kenyataan historis ‘kemajuan’ yang dicapai abad-abad sebelumnya. Modernisme
menurut Bambang Sugiharto (1996:  29) sebagai gerakan pemikiran dan
gambaran dunia tertentu yang awalnya  diinspirasikan oleh rasionalisme
Descartes, dikokohkan oleh gerakan Pencerahan (enlightenment / aufklarung) dan
mengabadikan dirinya hingga abd ke-20 melalui dominasi sains dan kapitalisme.
Menariknya, hampir segenap bangunan peradaban modern, mungkin
peradaban lainnya, selalu meletakkan ‘manusia’ sebagai subjek otonom, pusat
kesadaran dunia yang mempunyai ‘hak’ penuh secara bebas mengembangkan
kreativitasnya tanpa belenggu otoritas apapun, termasuk otoritas agama. Pada
konteks inilah, humanisme sebagai sebuah aliran kefilsafatan yang menempatkan
‘kebebasan’ manusia; baik berpikir, bertindak dan bekerja, sebagai segalagalanya, berpengaruh secara signifikan terhadap munculnya bangunan peradaban
modern (mungkin juga lainnya).  
Persoalannya adalah bangunan peradaban yang meletakkan manusia
sebagai pusat dan ukuran semua ‘ada’  (beings) (Levin, 1988: 3) telah
                                                
Listiyono Santoso, dosen dan peneliti Komunitas Kajian Kebudayaan dan Masyarakat (K3M)
Fakultas Sastra UNAIR Surabaya, Alumnus Filsafat UGMJurnal Filsafat, April 2003, Jilid 33,  Nomor 1
30
memunculkan sejumlah problem serius justru terhadap nilai-nilai kemanusiaan
yang selama ini diperjuangkan oleh humanisme itu sendiri. Epistemologi
humanisme yang bersandarkan diri pada kemampuan rasionalitas manusia
dengan segala otoritasnya –utamanya di  abad modern ini-  melahirkan problem
akut kemanusiaan; seperti penindasan, keterbelakangan, masalah lingkungan,
politik apartheid, tirani, peperangan yang berkepanjangan, bahkan kasus
genocide, sebagai pembunuhan total suatu bangsa oleh Nazisme Hitler terhadap
orang-orang Yahudi, oleh Loytard disebut sebagai “Auschwitz’ (lambang
pembantaian)  dalam banyak hal lahir  dari rahim ‘keangkuhan’ epistemologi
rasional-humanis. Keangkuhan epistemologi rasional ini pada perkembangan
selanjutnya memunculkan ‘keangkuhan’ manusia untuk bebas menawarkan dan
menebarkan prinsip-prinsip rasionalisme ke dalam seluruh realitas. Manusia
sebagai subjek otonom atas rasionalitas itu justru mengalami  alienasi,
keterasingan dan keterbelengguan oleh paradigma yang dicoba
dikembangkannya.
Pada dataran epistemologis, mega-proyek modernisme didirikan di atas
pondasi rasionalisme Cartesian tersebut  pada urutannya mengajak masyarakat
modern untuk melihat realitas dunia ini, tidak ubahnya bagaikan sebuah mesin
jam raksasa tanpa elemen spiritual yang terlihat menggerakkan. Epistemologi
adalah cara pandang untuk memahami dan menangkap realitas. Epistemologi
rasionalisme Cartesian yang sangat memuja subjek ‘aku’ yaitu I am the thinking
thing, telah melahirkan semacam keangkuhan  epistemologi bahwa realitas itu
bisa ditaklukkan melalui pendefinisian secara positif. Tatkala rasionalitaspositivisme diproklamirkan sebagai satu-satunya cara pandang terhadap realitas,
yang muncul kemudian adalah  mistifikasi terhadap validitas paham Cartesian,
dan diluar itu tidak benar. Maka sejak itu terjadilan imperalisme kultural
epistemologis (Komarudin Hidayat,  dalam Suyoto, dkk, (ed), 1994: 62).
Kekejaman perang, perusakan lingkungan, dan sebagainya –barangkali- diawali
oleh penerapan paradigma epistemologi rasional tersebut.
Sisi lain modernitas (baca: sebagai  salah satu keberhasilan ‘proyek’
humanisme) juga mempunyai kontribusi yang besar terhadap pengalienasian
nilai-nilai kemanusiaan. Di tengah  budaya modernitas, agama (misalnya)
terpojok antara ideologi-ideologi  besar produk kemodernan yang hanya
menghasilkan kondisi-kondisi kemanusiaan  yang terkooptasi oleh aspek-aspek
material yang berdampak pada nilai-nilai negatif yang dihasilkan oleh sains dan
teknologi yang bermuara pada destruksi, tanpa sanggup memaknai kebaruan
keberhasilan itu secara positif. Dampak  yang paling nyata lahirnya hedonisme,
materialisme, individualisme, bahkan sosialisme juga kapitalisme yang dibidani
oleh kesanggupan manusia, termasuk  tafsiran manusia dalam memaknai
kemanusiaannya.
Berbagai problem kemanusiaan tersebut jelas menggelisahkan semua pihak.
Maka menarik apa yang dijawab, Diagene Le Cynique, seorang filsuf Yunani
dengan teriakan “Ufattisu An Insanin (aku sedang mencari manusia)”, sewaktu
ditanya orang, saat dia membawa obor di siang hari mengelilingi pasar yang Listiyono, Patologi Humanisme (Modern)
31
membuat bingung orang. Jawaban tersebut merupakan sebuah ungkapan dari rasa
keterasingan dalam kungkungan kebudayaan yang dimotori oleh gerakan
humanisme.  
Lalu, apa sebenarnya (makna) humanisme sebagai sebuah gerakan
pemikiran kefilsafatan yang cukup berpengaruh, bahkan mendasari hampir setiap
aliran besar kefilsafatan modern lainnya, semisal; sosialime (humanismemarxisme), eksistensialisme, bahkan  kapitalisme (humanisme-liberal) ?
Bagaimana bangunan epistemologi humanisme sanggup menancapkan
pengaruhnya atas setiap peradaban manusia ? Persoalan ini menarik untuk dikaji.
Mengingat, humanisme sebagai sebuah aliran kefilsafatan; di satu sisi sanggup
memberikan kontribusi positif bagi kemajuan peradaban manusia, yang mencoba
memanusiakan manusia  (humanisasi), tapi di sisi lain, justru melahirkan pula
situasi  dehumanisasi  atas nilai-nilai kemanusiaan. Paradoks ini yang tampak
mengedepan dalam setiap pembahasan perihal krisis (dalam) humanisme.
MEMBERIKAN MAKNA (TERMINOLOGI) ATAS HUMANISME MODERN
Hampiran Istilah dan Problem Kemunculan
Pada awalnya, istilah humanisme menunjuk pada suatu terminologi
pemikiran kefilsafatan yang memandang kemampuan manusia telah cukup
representatif untuk menjelaskan realitas, tanpa bantuan dari otoritas luar. Kerja
humanisme adalah mencoba memanusiakan manusia (humanisasi) sebagai
manusia, yang selama ini manusia tidak lebih dipahami sebagai seonggok ‘objek’
atau minimal benda, tanpa mempunyai kekuatan dan kemampuan apa-apa vis a
vis realitas.
Dalam kamus filsafatnya, Lorens  Bagus (1992: 235) dalam Tim Penulis
Rosda (1999: 140) berpendapat humanisme merupakan sebuah filsafat yang; (1)
memandang individu rasional sebagai nilai tertinggi, (2) memandang individu
sebagai sumber nilai tertinggi, dan (3) ditujukan untuk membina perkembangan
kreatif dan moral individu dengan cara  yang bermakna dan rasional tanpa
menunjuk pada konsep-konsep adikodrati. Makna humanisme –dengan demikian-
jelas menunjuk pada kemampuan manusia sebagai individu yang rasional dan
dipakai sebagai ukuran segala bentuk pemahaman terhadap realitas. Manusia
adalah ukuran segala yang ada, sebagaimana yang kemudian menjadi basis
paradigma pemunculan dunia Barat modern.
Sementara menurut Scott Lash (dalam Brayn Turner (ed), 2000: 105) apa
yang dimaksud dengan humanisme merupakan persoalan yang penting. Para
penulis dalam seni dan arsitektur misalnya, telah sepakat dengan pengertian lama
dan konvesional tentang humanisme. Humanisme mempunyai kaitan dengan
keunggulan ontologis manusia dihadapan Tuhan. Ia berkaitan juga dengan
Renaissans dan pencarian  nilai-nilai Klasik dan humanis abad ke –18 dalam
zaman Yunani Kuno. Humanisme hanya sedikit berhubungan dengan apa yang
oleh strukturalisme Perancis disebut sebagai ‘humanis’. Kaum Strukturalis seperti Jurnal Filsafat, April 2003, Jilid 33,  Nomor 1
32
Althusser, Barthes, Foucault, dan bahkan Bourdie mendefinisikan strukturalisme
dalam kontra-distingsi teori sosial utama dari Sartre, Merleau-Ponty, dan lainnya
dari generasi guru-guru mereka. Mereka menyebut para teoretikus tersebut
‘humanisis’, meskipun demikian kaum strukturalis tidak serta merta disebut
sebagai humanis, karena dalam banyak hal memberikan kritik yang seringkali
bernada ‘anti-humanisme’ meski untuk hal ini tidak selamanya benar.
Pada bagian lain secara lebih sederhana Zainal Abidin (2000: 25)
memberikan penjelasan menarik tentang latarbelakang pemahaman mengenai
humanisme. Baginya, istilah humanisme akan lebih mudah dipahami kalau kita
meninjaunya dari dua sisi; sisi historis dan sisi aliran-aliran di dalam filsafat. Dari
sisi historis, humanisme berarti suatu gerakan intelektual dan kesusastraan yang
awalnya muncul di Italia pada paruh kedua abad ke-14 M. Gerakan ini boleh
dikatakan sebagai motor penggerak kebudayaan modern, khususnya Eropa.
Beberapa tokoh yang sering disebut-sebut sebagai pelopor gerakan ini misalnya,
Dante, Petrarca, Michelangelo, dan sebagainya. Kebudayaan Barat modern juga
terlahir dari rahim gerakan intelektual dan kesesusastraan ini. Sementara dari sisi
aliran filsafat, humanisme diartikan sebagai paham yang menjunjung tinggi nilai
dan martabat manusia sedemikian rupa sehingga manusia menempati posisi yang
sangat tinggi, sentral dan penting, baik dalam perenungan  teoretis-filsafati
maupun dalam praktis hidup sehari-hari.
Kedua sisi humanisme tersebut –kalau dicermati- sesungguhnya bermakna
mendasar berupa pengakuan atas munculnya sinyal otonomisasi manusia, sebagai
ukuran bagi setiap penilaian, dan referensi utama dari setiap kejadian di alam
semesta. Manusia adalah pusat dari realitas. Prinsip ini kemudian berhasil
membongkar segala bangunan dogma-dogma  agama dan otoritas gereja abad
Pertengahan yang membelenggu manusia untuk mengembangkan fitrah
kemanusiaannya. Belenggu otoritas gereja  abad Pertengahan disadari telah
mematikan potensi kemanusiaan, otonomisasi, kreativitas dan kemerdekaan
berpikir manusia. Rasionalitas manusia menjadi tidak ada gunanya, karena gereja
lah ‘memasung’ mereka ke dalam penjara dogma agama. Pembelengguan aspek
dasar kemanusiaan ini kemudian memunculkan resistensi dan kegelisahan para
filsuf/pemikir untuk melakukan ‘perlawanan’ atas kondisi yang demikian. Maka
lahirlah prinsip-prinsip humanisme (modern) sebagai awal munculnya
epsitemologi rasional yang menjadi pondasi filasafat Barat modern. Meskipun
demikian tetap harus disadari bahwa prinsip-prinsip ini telah dicoba
dikembangkan oleh para filsuf awal atau filsuf sebelumnya.
Gerakan ini kemudian berhasil juga membangunkan manusia dari tidur
dogmatisnya, bahwa manusia tidak sekedar objek/benda di dunia yang berfungsi
sebagai  viator mundi (peziarah di muka bumi), melainkan sebagai vaber mundi
(pekerja atau pencipta dunianya) (Zainal Abidin, 2000: 26). Gerakan seperti ini
jelas merupakan gambaran gerakan Renaisans (abad ke-14 sampai abad ke-16 M)
yang diawali dari Italia kemudian secara luar biasa menyebar secara pervasive ke
segenap penjuru Eropa. Gerakan ini dijalankan melalui pengembangan
pendidikan liberal, dengan satu prinsip  bahwa manusia pada dasarnya adalah Listiyono, Patologi Humanisme (Modern)
33
makhluk bebas dan berkuasa penuh atas  eksistensinya sendiri dan masa
depannya. Maka dalam keadaan tertentu,  kekuatan-kekuatan dari luar manusia
yang membelenggu kebebasan manusia harus segera dipatahkan.  
Prinsip-prinsip ini kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai
subjektivitas modern. Menurut Magnis Suseno (1992: 60-61) prinsip subjektivitas
modern mencoba meletakkan manusia dalam subjektivitasnya, dengan
kesadarannya, dan dalam keunikannya menjadi titik acuan pengertian realitas.
Subjektif dalam konteks ini bukan sesuatu yang negatif, melainkan keunggulan.
Menurut Hegel (1770-1832) manusia itu  bukan substansi, melainkan subjek.
Substansi disini dimaksud bukan sebagai kepadatan kebendaan, sebagai sesuatu
yang berada di dunia bagaikan sebongkah batu di tengah-tengah sawah.
Sedangkan subjek adalah pusat kesadaran, kesadaran akan kesadaran, pusat yang
secara kritis m,elawankan diri terhadap realitas, juga  terhadap dunia. Manusia
adalah sebuah kesadaran, bahwa segala apa yang ada, termasuk dirinya, menjadi
objeknya, menjadi dunianya. Manusia dengan demikian –tidak sekedar hadir-
dalam dunia, melainkan hadir dengan sadar, dengan berpikir, dengan berefleksi,
dengan mengambil jarak secara kritis dan bebas.
Berawal dari prinsip subjektivitas modern ini kemudian melahirkan gerakan
humanisme (modern), yang menurut Magnis Suseno dapat ditelusuri melalui
pemahaman gerak sejarahnya. Bagi Magnis Suseno (1992: 61) subjektivitas
modern bertolak dari suatu perubahan  perspektif manusia yang fundamental.
Bermula dari cara pandang para filsuf Yunani yang bersifat  kosmosentris, yang
mencari dasar realitas dalam unsur-unsur kosmos atau alam raya, kemudian
pandangan ini disingkirkan oleh  abad Pertengahan dengan pandangan
theosentrisme-nya; dimana semuanya dilihat dari segi Allah. Manusia memahami
diri sebagai salah satu unsur, meskipun bukan yang tertinggi, dalam  ordo atau
tatanan hierarkis alam semesta yang diciptakan oleh Allah.
Pandangan inipun kemudian mulai didesak oleh pandangan antroposentris
dalam masa Renaisans, sebagaimana dijelaskan di atas. Renaisans jelas
merupakan kritik paling mendasar terhadap perspektif kebudayaan di Barat yang
sama keras dan mendasarnya dengan gambaran sistem planet tradisional oleh
Copernicus. Gerakan Renaisans menemukan serta menghargai kembali
kebudayaan pra-kristiani Yunani dan  Romawi, tetapi tidak dengan masuk
kembali ke alam kosmosentris. Bagi  Renaisans, alam Yunani dan Romawi
membuka pandangan mereka tentang manusia. Manusia ditempatkan ke dalam
pusat dunia. Lahirlah humanisme dengan  homo universale, manusia universal,
sebagai cita-citanya. ketika paham realitas sebagai tatanan semeseta theosentris
yang selaras diganti dengan dinamika  perkembangan manusia sebagai subjek
yang mengangkat kepalanya berhadapan dengan ciptaan lain. Manusia menjadi
kehilangan kepolosannya sebagai salah satu warga alam raya. Ia sudah sadar akan
fungsinya sebagai  homo faber, manusia yang melanjutkan dan meneruskan
penciptaan dunia, yang melihat dunia sebagai tantangan dan tugasnya. Manusia
tidak lagi sebagai salah satu substansi dalam dunia, melainkan manusia sebagai
subjek berhadapan dengan dunia (Magnis Suseno, 1992: 62). Jurnal Filsafat, April 2003, Jilid 33,  Nomor 1
34
Lahirnya ilmu-ilmu modern masa Renaisans merupakan suatu kondisi yang
merupakan prinsip humanistis; sebagai suatu konsekuensi logis atas ‘dibebaskannya’ manusia untuk berpikir, merasakan dan bertindak. Meski harus diakui
bahwa masa renaisans berupaya untuk menghidupkan kembali doktrin filsafat
klasik zaman Yunani kuno yang telah terkubur oleh abad Pertengahan. Doktrindoktrin heliosentris dari Phytagoras, karya-karya Archimedes dan ahli-ahli fisika
atomistik pada waktu itu, digali dan dikaji ulang. Beberapa pemikir Ranaisans,
seperti Leonardo da Vinci, Copernicus,  dan Galileo Galilei menimba pelajaran
berharga dari karya-karya mereka. Doktrin Phytagoras bahwa ‘alam semesta
tertulis secara matematis dan karenanya diperlukan penguasaan atas matematika
untuk bisa menguasainya’, menjadi asumsi yang berkembang pesat di lingkungan
kaum humanis pada masa Renaisans (Zainal Abidin, 2000: 28).
Doktrin yang berkembang pada masa Renaisans yang memberikan
keleluasaan bagi manusia untuk bereksperementasi, lepas dari doktrin dan
pengaruh gereja memungkinkan berkembangnya ‘nuansa’ humanisme yang
dikedepankan. Melalui dua aspek dasar manusia; yaitu bertubuh dengan panca
indranya dan berjiwa dengan akal budinya, manusia kemudian sanggup
menemukan ilmu pengetahuan yang sifatnya empiris dan rasional. Kenyataan ini
jelas semakin memberikan bukti betapa ‘manusia’ dengan segala nilai
kemanusiaannya merupakan titik sentral  pemunculan ilmu modern, dan juga
pusat dari pemahaman atas realitas.
Dengan demikian, secara historis, pemunculan humanisme (modern)
sebagai gerakan pemikiran bersumberkan pada keinginan manusia untuk
mengembalikan fitrah dasar kemanusian, sebagai makhluk yang otonom dengan
kemampuan rasionalitasnya dan kemerdekaan berpikirnya. Gerakan ini bisa jadi
juga lahir sebagai sebuah semangat perlawanan terhadap setiap kekuatan yang
‘memasung’ kemampuan dasar alami manusia. Humanisme –kemudian- pada
dasarnya terlahir dari keinginan untuk memanusiakan manusia sebagai manusia,
sebagai subjek dengan kesadarannya, bukan sebagai objek tanpa kesadaran.
Ragam Implikasi Humanisme
Terminologi ‘humanisme’ pada  dasarnya mempunyai makna yang
beragam, bahkan menjadi tema yang sering diperdebatkan. Sebagaimana yang
ditunjukkan oleh Bernauer dan Mahon sebagaiman dikutip oleh Leela Gandhi
(1998: 27), bahwa ‘Kristianitas yang melakukan telaah atas agama Kristen,
pengetahuan, anti pengetahuan, Marxisme, Eksistensialisme, Personalisme,
Sosialisme nasional, dan Stalinisme, masing-masing menggunakan label
humanisme pada suatu waktu. Ragam humanisme ini, bagaimanapun juga,
disatukan dalam kepercayaan mereka yang mendasari beragamnya pengalaman
manusia. Hal ini adalah mungkin,  pertama  untuk melihat sifat alami manusia
yang universal dan  kedua, untuk menemukan dalam bahasa umun rasionalitas.
Hal ini berarti bahwa humanisme –pada  dasarnya- dapat diimplikasikan (dan
ditimpakan) pada berbagai aliran kefilsafatan. Hampir semua aliran kefilsafatan
dalam keadaan tertentu mengakui dirinya sebagai humanis(me) karena Listiyono, Patologi Humanisme (Modern)
35
meletakkan pendasaran epsitemologinya pada rasionalitas ‘manusia’ sebagai
ukurannya, atau minimal menjadikan manusia (subjek) sebagai awal dari setiap
penjelasan atas objek (realitas) secara otonom.
Dengan mengacu bahwa manusia sebagai subjek otonom yang paling
berperan dalam memahami realitas, dan juga manusia sebagai objek pembahasan
oleh pemikiran manusia juga, maka sebagian besar pemikiran kefilsafatan
bermuara pada prinsip dasar dari humanisme ini. Artinya, setiap penilaian atau
interpretasi tentang kejadian atau  gejala manusiawi, utamanya yang dapat
ditangkap oleh panca indra manusia, yang menempatkan manusia hanya sebagai
entitas-entitas marjinal atau pinggiran dengan sendirinya tertolak. Menurut
terminologi ini, maka tidak berlebihan bila sebagian besar aliran filsafat besar
seperti Marxisme, Pragmatisme, dan Eksistensialisme dapat dikategorikan ke
dalam humanisme.  
Marxisme misalnya; terlepas dari bentuk otoritarianisme, ia berusaha
mengedepankan prinsip mendudukkan manusia (masyarakat dan buruh) pada
pusat kehidupan, yang secara teoretis  harus dijunjung tinggi martabat dan
kemanusiaannya. Dengan mendasarkan pada filsafat Marx; yang berusaha
membebaskan manusia (buruh) dari belenggu produksi dan kerja, Marxisme
menjadi gerakan kaum buruh untuk mewujudkan cita-cita kebersamaan,
memberantas ketidakadilan, penindasan  dan sebagainya. Begitu juga dengan
aliran pragmatisme dan eksistensialisme, yang tetap memberikan ‘ruang’ bagi
manusia sebagai subjek atau individu kongkret serta ukuran bagi segala-galanya.
Bahkan Sartre (Bertens, 1987; 32-33), juru bicara eksistensialisme pernah
memberikan ceramah menarik dengan judul Eksistensialisme adalah humanisme.
Sebuah ceramah dari suatu diskusi Marxisme bahwa eksistensialisme juga berhak
menggunakan ‘humanisme’. Dalam perkembangan selanjutnya istilah
‘humanisme’ menjadi tema utama bagi banyak filsuf untuk menguraikan
filsafatnya; menariknya dengan tetap  mendasarkan diri pada prinsip
‘humanisme’. Sebut saja seperti Maurice Merleau Ponty yang menulis
Humanisme dan Teror (1969); suatu pembahasan tentang komunisme, kemudian
Karl Jaspers tahun 1949 memberikan ceramah tentang  Syarat-syarat dan
Kemungkinan bagi Suatu Humanisme Baru, serta Martin Heidegger yang menulis
surat berjudul  Surat tentang Humanisme (1947), bahkan dari pihak Kristen
mengadakan percobaan untuk mengklaim nama ‘humanisme’ sebagai misal
Jacques Maritain, yang menulis  Humanisme Menyeluruh  (1936) yang
menganggap humanisme Kristiani sebagai sintesa paling baik dari unsur-unsur
humanistis yang tampak sepanjang sejarah, dari humanisme klasik di zaman
Renaisans sampai dengan humanisme Marxistis dan humanisme Liberal.
Menurut Leela Gandhi (1998: 38) dalam mempertahankan kepercayaannya,
tokoh-tokoh prinsip humanis Marxis  –misalnya- seperti Noam Chomsky,
Frederick Jameson, dan juga Jurgen Habermas, menyatakan bahwa humanisme
menahan kemungkinan konsensus yang universal dan rasional antara individuindividu yang bertanggungjawab dengan memperhatikan konseptualisasi tatanan
sosial yang ramah dan progresif. Sebaliknya, poststrukturalis dan posmodernis Jurnal Filsafat, April 2003, Jilid 33,  Nomor 1
36
anti humanis menyatakan bahwa beberapa dalil normatif atau universalitas dari
kebulatan suara rasional adalah totalitarian dan bertentangan dengan keberlainan
dan perbedaan.
 Di lain pihak, terminologi humanisme juga mempunyai perluasan
pemahaman. Sebagaimana disebut oleh Frederick Edword dalam  What is
Humanism ? (1989: 3) yang membuat ringkasan mengenai pengertian-pengertian
humanisme, sebagai berikut:
1. Humanisme Renaisans; sebagai semangat belajar yang mulai berkembang
pada akhir abad Pertengahan, ditandai dengan bangkitnya kembali karya-karya
klasik dan keyakinan yang diperbaharui atas kemampuan manusia untuk
menentukan kebenaran dan kepalsuan bagi diri mereka sendiri.
2. Humanisme literer, yakni penyerahan kepada budaya humanitas atau literer.
3. Humanisme budaya, yakni budaya rasional dan empiris, khususnya yang
berasal dari Romawi dan Yunani Kuno, dan berevolusi sepanjang sejarah
Eropa. Sekarang ini menjadi bagian  yang mendasar dari pendekatan Barat
terhadap ilmu pengetahuan, teori politik, etika dan hukum.
4. Humanisme filsufis, yakni pengekspresian cara hidup yang dipusatkan pada
kebutuhan dan minat manusia, yang meliputi humanisme Kristiani dan
Humanisme modern.
5. Humanisme Kristiani, yakni filsafat yang menekankan pemenuhan diri dalam
rangka prinsip-prinsip Kristiani.
6. Humanisme modern, sebuah pemikiran filsafat yang menolak hal-hal
supranatural. Ia bersandar pada kemampuan akal dan ilmu pengetahuan,
demokrasi dan kasih sayang manusia. Humanisme modern mempunyai sifat;
sekuler dan religius.
7. Humanisme sekuler, adalah perkembangan lanjutan dari era pencerahan abad
ke-18 dan abad ke-19, serta,
8. Humanisme Religius sebagai humanisme yang muncul dari budaya etis,
utilitarianisme dan universalisme.
Leela Gandhi dalam bukunya Postcolonial Theory A Critical Introduction
(1998) membuat sebuah kajian menarik tentang humanisme dalam hubungan
dengan postkolonial. Dimana untuk mengenali humanisme melalui kajian
postkolonial melahirkan dua pendekatan  yang nyata secara kronologis atas
sejarah dan akibat-akibat humanisme.  Pertama, berkaitan dengan humanisme
sebagai program budaya dan pendidikan  yang berawal dari  kebangkitan Italia
sekitar pertengahan abad ke-16 dan berkembang cepat menjadi wilayah kajian
yang sekarang dikenal sebagai ilmu kemanusiaan.  Kedua, pendekatan
postrukturalis membawa makna yang secara kronologis lebih tepat dengan
gagasan humanisme. Kajian ini mengidentifikasi humanisme dengan teori
subjektivitas pengetahuan yang secara  filsufis dikembangkan oleh Bacon,
Descartes, dan John Locke, dan dari sisi ilmu pengetahuan disarikan oleh Galileo
dan Newton. Revolusi filsufis  dan pengetahuan ini disampaikan untuk
menemukan pemenuhannya yang sesuai di abad ke-18 dimana ia diterima sebagai
Pencerahan atau Aufklarung (Leela Gandhy, 1998: 40). Listiyono, Patologi Humanisme (Modern)
37
Perspektif yang cukup beragam untuk menjelaskan humanisme sebagai
aliran kefilsafatan tersebut mempunyai konsekuensi logis yang menarik. Betapa
humanisme dalam kenyataannya tidak sekedar aliran filsafat an sich yang vis a
vis dengan aliran besar filsafat lainnya, melainkan ia mendasari lahirnya sejumlah
besar aliran kefilsafatan yang paling berpengaruh pada abad modern.
Kemampuan humanisme untuk mempengaruhi  alur berpikir aliran kefilsafatan
lainnya, tidak bisa dilepaskan dari  ciri mendasarnya yang mengedepankan;
kebebasan berpikir, skeptisisme, rasionalisme naturalistik dan pemenuhan diri
sendiri. Semua golongan intelektual selalu menganggap nama ‘humanisme’
kemudian, amat cocok untuk mengungkapkan cita-cita gerakan dan pemikiran
mereka. Menariknya, meskipun setiap ‘humanisme’ berbeda dalam tampilan,
mereka tetap bersepakat dalam antroposentrisme dan pemberian kategoris mereka
atas subjek manusia. Menurut Diderot sebagaimana dikutip oleh Leela Gandhy
(1998: 41) manusia adalah tempat tinggal  dimana kita harus mulai dan dimana
kita merujuk atas segala sesuatu… Inilah kehadiran manusia yang membuat
keberadaan makhluk lain menjadi lebih bermakna.
 Pemahaman atas manusia sebagai individu yang ‘berhak’ untuk
menentukan nasibnya sendiri, untuk membuat sejarahnya sendiri; adalah sikap
humanistis yang menjadi spirit bagi gerakan pemikiran kefilsafatan lainnya. Hal
ini berarti bahwa dari rahim humanismelah lahir sejumlah pemikir yang menjadi
‘ikon’  bagi gerak kefilsafatan modern  dalam spektrumnya. Dalam konteks ini
maka, humanisme berimplikasi positif bagi tumbuh kembangnya filsafat Barat
modern yang memberikan perubahan secara revolusioner bagi wajah peradaban
umat manusia. Implikasi positif tersebut tentu saja terletak pada aspek humanisasi
atas diri manusia; untuk secara sadar menemukan potensi kemanusiaannya,
sehingga kualitas homo faber dapat dimunculkan. Dan wajah peradaban modern
awal barangkali menjadi  bukti implikasi positif dari pergerakan humanisme
secara radikal.
 Namun demikian, dari sejumlah implikasi positif tersebut, dalam
perkembangan selanjutnya, humanisme  juga menghadirkan sejumlah problema
(sebagaimana dijelaskan di atas). Problema tersebut, terutama berkaitan dengan
problem epistemologik atas bangunan filsafat Barat modern yang masih tetap
‘angkuh’ untuk mengedepankan epsitemologi rasional yang justru menjadi
sebuah imperialisme kultural epistemologis. Pendasaran atas rasional dan juga
ilmiah pada akhirnya ‘mematikan’ munculnya situasi-situasi kemanusiaan yang
dianggap tidak rasional dan tidak ilmiah. Segala peristiwa yang  anomali dan
menyimpang dari ‘tatanan’ misalnya, akan dianggap wajar apabila dilegitimasi
dengan rasionalitas dan ilmiah tersebut. Keadaan ini yang tidak disadari, betapa
setiap kebudayaan mempunyai  language game (permainan bahasanya) sendirisendiri, yang tidak mungkin dipaksakan kepada pihak lain. Keangkuhan
epistemologik inilah yang kemudian menjadi ‘malapetaka’ bagi nilai-nilai
kemanusiaan, bagi munculnya dehumanisasi,  peperangan, pembunuhan,
hedonisme, politik aparthaeid, perang antar agama dan baru-baru ini dengan
stigmatisasi fundamentalisme dan terorisme secara tidak adil. Jurnal Filsafat, April 2003, Jilid 33,  Nomor 1
38
RUNTUHNYA EPISTEMOLOGI RASIONAL: AWAL KRISIS DALAM
HUMANISME
Menariknya, di tengah ‘hiruk pikuk’ filsafat Barat modern menancapkan
pengaruhnya secara hegemonik melalui penerapan tradisi kefilsafatan humanisme
ke dalam setiap kultur maupun struktur masyarakat (lain), ternyata ia justru
sedang dilanda sejumlah problem epistemologik yang mendasar. Artinya, di
tengah pengaruh yang cukup kuat dari tipikal epistemologi rasional ke dalam
ranah kognisi manusia, humanisme ternyata sedang dipertanyakan
kemampuannya untuk memanusiakan manusia. Alih-alih memberikan
penghargaan atas harkat dan martabat kemanusiaan, humanisme justru
menampilkan dirinya sebagai sebuah kebebasan (sains dan pengetahuan serta
logika) tanpa kendali yang mereduksi nilai-nilai kemanusiaan pada tingkatan
paling akut. Manusia yang dicoba diangkat dari keterasingannya oleh
Humanisme-Marxisistis justru semakin terasing oleh produksi-produksi dan kerja
yang membelenggu, sementara humanisme liberal yang mencoba membebaskan
manusia dari pengaruh-pengaruh institusi birokrasi dan dominasi gereja misalnya,
justru menampilkan dirinya sebagai kekuatan tiranik baru yang bersembunyi di
balik terminologi ‘liberalisasi’.
Tidak berlebihan bila seorang pemikir Iran kontemporer Ali Syariati (1992:
34) melakukan dekonstruksi  atas bangunan filsafat dua ‘kerajaan besar’
humanisme yaitu sosialisme (humanisme marxis) dan kapitalisme (humanisme
liberal) yang keduanya dianggap menyingkirkan filsafat kehidupan (batin)
manusia. Kritikan Syariati yang demikian tajam atas ‘humanisme marxis’
bermula sekali sejak Syariati memergoki geneologi filsafat ini ternyata diadopsoi
dari mitologi Yunani Kuno, sebagaimana yang dia katakan:
kekeliruan paling besar dan mengharukan yang dilakukan humanisme
modern sejak Diderot dan Voltaire, sampai Feurbach dan Marx adalah
karena mereka menyamakan dunia mitos Yunani Kuno, yang tetap berada
dalam batas-batas alam material, dengan dunia suci spiritual agama-agama
purba besar. Mereka membandingkan, bahkan menggabungkan menjadi
satu, hubungan manusia terhadap  Zeus dengan hubungannya terhadap
Ahuramazda, Rama, Tao, Isa dan Allah.
Sedangkan kritik Syari’ati atas humanisme liberal (kapitalisme) sebagai
berikut:  
Ia adalah tukang sihir baru yang menyihir kemanusiaan hingga masuk ke
dalam penjara baru roda-roda raksasa tak berbelas kasihan dari mekanisme
tekno-birokrasi. Dan manusia ? Seekor binatang ekonomis yang tugasnya
hanyalah merumput dalam surga ini.’
Kritik yang disampaikan Syari’ati tersebut pada dasarnya merupakan
implikasi logis dari segenap potensi negatif yang muncul dari penerapan prinsipprinsip humanisme modern. Prinsip-prinsip humanisme modern tersebut bermula
dari periode Renaisans yang merupakan awal perkembangan sains dan teknologi,
perluasan dan ekspansi perdagangan, perkembangan wawasan modern tentang
‘humanisme’; sebagai bentuk pendewaan rasionalitas dalam pemecahan masalah-Listiyono, Patologi Humanisme (Modern)
39
masalah manusia. Semangat yang –sekali  lagi- terlihat jelas pada pemikiran
Descartes, yang melalui wawasan ‘humanisme’-nya menjadikan manusia –
dengan segala kemampuan rasionalnya-  sebagai ‘aku’ (subjek) yang sentral
dalam pemecahan masalah dunia. Wawasan Cartesian, dalam hal ini sangat
mekanistis, dalam pengertian rasionalitas dijadikan sebagai ukuran tunggal
‘kebenaran’ dan ‘mesin’ dijadikan sebagai paradigma, dalam mewujudkan
mimpi-mimpi utopis manusia modern akan ‘kekuasaan’ (Amir Piliang, 1999: 16)
Menurut Levin (1988: 3) pengertian ‘subjek’ dalam wawasan humanisme
rasional Cartesian ini sebenarnya sarat dengan kekaburan dan paradoks, oleh
karena, di satu pihak, penyanjungan kemampuan akal budi manusia, yang
menjadikan manusia sebagai subjek yang merdeka, self-determination  dan self
affirmation merupakan awal dari keterputusan manusia dari Tuhan, di lain pihak,
konsep rasional ini justru  diandalkan oleh Descartes sebagai perangkat untuk
membuktikan eksistensi Tuhan itu sendiri. Model humanisme rasional Descartes
ini pada perkembangan selanjutnya justru semakin ‘memperparah’ kondisi
kemanusiaan, utamanya dalam menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan.
Manusia kemudian hanya dihargai sebagai pengedepanan nilai-nilai rasionalitas,
padahal sisi ini hanya satu bagian dari bagian lain nilai kemanusiaan. Akhirnya,
dominasi rasionalitas ini ‘mematikan’  aspek spiritualitas kemanusiaan, bahkan
nilai kemanusiaan itu sendiri.
Menarik apa yang diintrodusir Yasraf Amir Piliang (1999: 16) bahwa apa
yang disebut Pencerahan dalam diskursus  filsafat modern sebenarnya adalah
sebuah proses ‘penyempurnaan’ secara kumulatif kualitas subjektivitas dengan
segala kemampuan objektif akal budinya  dalam mencapai satu tingkatan sosial
yang disebut dengan ‘kemajuan’. Keterputusan dari nilai-nilai mitos, spirit
ketuhanan, telah memungkinkan manusia modern untuk ‘mengukir sejarahnya
sendiri’ di dunia –sebagai suatu proses  self-determination, dengan manusia
menciptakan kriteria-kriteria dan nilai-nilai untuk perkembangan diri mereka
sendiri sebagai subjek yang merdeka.
Keterputusan dari nilai-nilai dan  spirit yang lama, telah memungkinkan
manusia modern dengan humanismenya untuk hidup di dunia baru, dunia
modern, yang oleh Hegel disebut sebagai ‘jaman baru’ (new age). Sebagaimana
diungkapkan Hegel dalam Phenomenology of Spirit (1988: 7):
Jaman kita adalah sebuah kelahiran dan periode peralihan menuju satu era
baru. Spirit telah terputus dari  dunia yang sebelumnya dihuni dan
diimajinasikan, dari pikiran yang telah menenggelamkannya di masa lalu,
dan ia dalam proses transformasi. Spirit tidak pernah diam di tempat, akan
tetapi selalu dalam proses bergerak ke depan ….ketidakstabilan dan
kebosanan yang mengguncang orde yang mapan, ramalan samar-samar
tentang segala sesuatu yang belum diketahui di depan, semuanya ini adalah
pertanda dari perubahan yang tengah menjelang.
Tampaknya spirit modern dengan humanismenya –sebagaimana
diintrodusir Hegel di atas – mengisyaratkan munculnya  bangunan peradaban
yang memandang manusia sebagai subjek, yang menentukan landasan nilai dan
kriteria-kriteria dalam kehidupannya di dunia. Manusia modern tidak lagi Jurnal Filsafat, April 2003, Jilid 33,  Nomor 1
40
memerlukan landasan nilai, kebenaran atau legitimasi selain dari dalam dan untuk
dirinya sendiri, sebab manusia modern bertanggungjawab terhadap dirinya
sendiri. Bagi Hegel (1988: 9) tidak ada landasan lain yang menopangi subjek
yang merdeka selain dari ‘akal budi; sang subjek itu sendiri, akal budi yang
mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Baginya, ilmu pengetahuan
menjadi mahkota dari apa yang disebutnya ‘Kebenaran Ideal’  (spirit),
menggantikan mitos, legenda atau wahyu.
Keadaan yang demikian kemudian memunculkan situasi ‘timpang’ dan
tidak seimbang dari gerak kemajuan modernis melalui pendekatan
humanismenya. Arus mainstream yang dikembangkan kemudian haruslah sesuai
dengan alur logika epistemologi modern dengan rasionalitas empirisismenya. Di
luar mereka, meminjam terminologi Wittgenstein, tak ada  languge game  yang
memiliki keabsahan karena tidak mengikat standar empirisme rasional. Rumus
kehidupan atau rule of the game menjadi monoton, absolut dan dunia di luar
mereka bukanlah dunia yang beradab yang patut didengar, yang berhak
menafsirkan realitas dengan caranya  sendiri, bahkan menciptakan narasi
kehidupan serta grammar of life tersendiri.
Itulah sebabnya secara radikal Ali Syari’ati (1996: 57) melakukan kritik
mendasar atas bangunan epistemologi rasional modern yang justru memunculkan
malapetaka modern yang menyebabkan  kemerosotan dan kehancuran manusia,
yaitu hancurnya sistem kemasyarakatan  dan hancurnya sistem ideologi. Kedua
sistem humanisme (baik kapitalisme dan komunisme) mereduksi manusia hanya
sebagai homo economicus (manusia ekonomi). Meletakkan manusia hanya pada
satu aspek tertentu tersebut adalah prinsip dari humanisme modern. Ilmu yang
dijadikan alat untuk menemukan kebenaran, justru mengarah pada pencarian
kekuasaan semata.
Perkembangan sains dan teknologi sebagai bagian integral dari proyek
humanisme modern, untuk menunjukkan keunggulan manusia, semakin hari kian
menakutkan. Perlombaan senjata, kompetisi yang tidak pernah berhenti, media
komunikasi yang hegemonik, pada akhirnya adalah cerminan dari ‘ruang’
kebebasan yang diberikan terhadap manusia; untuk bereksperimentasi tiada henti.
Pada titik selanjutnya, terjadilah proses penghancuran martabat kemanusian
justru oleh manusia itu sendiri. Humanisme justru melahirkan anti humanisme;
dan epistemologi rasional yang menjunjung kebebasan dan kemerdekaan berpikir
manusia justru menjadi ‘penjara’ baru, bahkan menjadi kekuatan ideologis baru
yang ‘mengukung’ kebebasan manusia. Akhirnya, justru gerak humanisme
modern melahirkan sejumlah ketidakpastian eksistensial manusia; untuk
menemukan jati dirinya sebagai manusia, bahkan untuk menjadi manusia.
   
EVALUASI KRITIS SEBAGAI CATATAN PENUTUP  
Pada akhirnya yang bisa diungkapan  untuk menjelaskan krisis (dalam)
humanisme adalah kenyataan terjadinya pengintegrasian terminologi
‘humanisme’ ke dalam hampir sebagian besar aliran filsafat. Aliran-aliran besar
filsafat seolah-olah tampil sebagai satu-satunya yang representatif menggunakan Listiyono, Patologi Humanisme (Modern)
41
nama ‘humanisme’.  
Humanisme, yang semula begitu  bersemangat untuk mengembalikan
otoritas manusia dengan rasionalitasnya yang diberangus oleh dogma-dogma
agama dan gereja; serta menjadikan manusia memiliki harkat dan martabat
utamanya dengan mengedepankan pengembangan epistemologi rasionalnya;
justru semakin ‘menyulitkan’ posisi manusia. Karena yang terjadi –dalam
perkembangan selanjutnya- humanisme memberikan kontribusi cukup signifikan
bagi hilangnya nilai-nilai kemanusiaan . Perang, penindasan bahkan penghisapan
tenaga manusia oleh kapitalisme industrial melalui produksi-produksinya adalah
cerminan dasar betapa humanisme telah gagal sebagai pejuang bagi
pengangkatan harkat dan martabat kemanusiaan.
   
DAFTAR PUSTAKA
Bagus, Lorens, 2000, Kamus Filsafat, Gramedia,  Jakarta
Hegel, GWF, 1988, Phenomenology of Spirit, Oxford University Press, London
Hidayat, Komaruddin, 1994,  Postmodernisme dan Keangkuhan Epistemologi
Rasional, dalam Sutoyo, dkk, (ed),  Postmodernisme dan Masa Depan
Peradaban, Aditya Media, Yogyakarta  
Gandhy, Leela , 1998,  Postcolonial Theory; A Critical Introduction, Allen &
unwin, Sidney
Levin, David Michel, 1988,  The Opening of Vision: Nihilism and the Postmodernism Situation, Routledge, London  
Piliang, Yasraf Amir Piliang, 1999,  Hiper-Realitas Kebudayaan, LKiS,
Yogyakarta  
Sartre, Jean Paul, 1948,  Existensialis and Humanism, terj. Philip Mairet;
Methuen, London
 Lash, Scott, 2000, Posmodernisme sebagai Humanisme ? Wilayah Urban dan
Teori Sosial, dalam  Bryan Turner,  Teori-Teori Sosial Modernitas dan
Postmodernitas, terj. Imam Baehaqi dan Ahmad Baidlowi, Pustaka
Pelajar,Yogyakarta
Sugiharto, I. Bambang, 1996, Postmodernisme Tantangan bagi Filsafat Kanisius,
Yogyakarta
Suseno, Frans Magnis, 1992, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Kanisius, Yogyakarta.
Syariati, Ali, 1996,  Humanisme Antara Islam dan Mazhab Barat, terj. Afif
Muhammad, Pustaka Hidayah, Bandung
Tim Penulis Rosda, 1999, Kamus Filsafat, Rosdakarya, Bandung
Abidin, Zainal,  2001, Filsafat Manusia, Rosdakarya, Bandung

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: